Skip to main content

Ngelewatin batas dikit!

Semua dari jejak seorang manusia memberikan sebuah cerita yang membekas tak hanya membekas dalam bentuk fisik (wujud) tapi juga akan membekas dalam sebuah rasa yang menyebabkan itu akan lebih kekal untuk selamanya. Dan pada waktu itulah yang pertama kali saya bisa menapakan sebuah cerita yang tidak jauh dari Negara republic Indonesia. Ini memberikan saya sebuah pelajaran bahwasanya untuk keluar negeri tak hanya untuk orang yang memiliki uang banyak,anak menteri,keluarga konglomerat,dan sebagainya. Dari pembelajaran dan kesempatan saya pada hari ini membawa saya menapak keluar dari batas dunia saya di Indonesia yang bermodalkan nekat,kegigihan,dan rasa ingin tau terhadap dunia luar.
Dalam hati saya selalu mengendap sebuah rasa sedih(bukan rendah diri) ketika beberapa dari mereka yang pernah keluar negeri bisa bercerita banyak atas kesuksesan mereka bisa traveling,studying,dan berbagai macam activitas mereka di sana dan yang pada intinya itulah yang membuat saya ingin merasakan apa yang mereka rasakan untuk bisa diceritakan kepada generasi selanjutnya karena Indonesia butuh inspirator besar yang akan mengubah Negara mereka menjadi Negara yang memproduksi banyak manusia yang bermental baja dan ber-skill tinggi untuk kedepan nya.
Negeri jiran adalah Negara pertama saya melewati batas dunia saya Indonesia, yang mengajarkan saya banyak pembelajaran bahwasanya dunia itu bukan hanya Indonesia dengan jakarta nya yang memiliki gedung-gedung tinggi,jalan tol yang sangat panjang,monas yang menjulang tinggi sebagai landmark tapi Malaysia menegaskan bahwasanya mereka juga memiliki infrastructure yang sangat canggih dan bahkan saya rasa sudah melewati apa yang telah dimiliki oleh Negara kita. Semua yang saya lakukan disana dipermudah dengan mesin-mesin yang sangat canggih yang beberapa belum ada di Indonesia.  Bukan maksud penulis ingin mengomentari apa yang telah dilakukan oleh pemerintahan kita pada saat ini tapi Negara yang jauh lebih muda dari Negara Indonesia yang menjadikan sebuah pertanyaan besar kenapa Negara yang akan kaya dengan sumber daya alam nya dan tanah yang subur seperti pada lirik lagu band kondang Koesploes “tanah kita tanah surga,tongkat kayu dan batu jadi tanaman” dan belum lagi kekayaan bahari yang tidak kalah kaya karena status dari sebuah Negara kepulauan dan pertanyaan besar nya kok bisa ya  Negara kita tertinggal oleh Negara Muda seperti malaysia. Beberapa dari mereka menyebutkan bahwasanya ada perbedaan dimensi antara Indonesia dengan Malaysia “ iyalah Malaysia tidak sebesar Indonesia mengaturnya susah,Indonesia banyak manusia nya yang diatur” pernyataan ini yang sampai saat ini terus berulang dari mulut ke mulut yang saya rasa akan membuat orang Indonesia malas serta tidak memiliki ambisi yang tinggi untuk ingin mempercepat kemajuan Indonesia. Sedikit cerita ketika saya bercerita dengan teman saya yang memiliki passion orasi yang cukup tinggi dan pengalaman dalam aksi – aksi mengkritik pemerintah pernah menggatakan bahawasanya “ Orang indonesia bilang malaysia itu dibantu inggris,sekutu,dan banyak lagi dan mereka takut dengan inggris dan komplotan blabla sebagai nya dan indonesia itu independent serta berdiri sendiri dan tidak ada takut takut nya sama yang lain sampai sama tuhanpun negara ini tidak takut makanya banyak dari mereka yang korupsi yang intinya negara ini tambah hancur” dari statement akhir tersebut membuat saya terdiam beberapa detik dengan gambaran yang cukup memberikan makna dengan apa yang terjadi dengan negara kita saat ini yang hancur akibat tangan – tangan yang tidak bertanggung jawab atas kepercayaan masyarakat nya terhadap mereka dan dengan apa yang terjadi dengan saya dan negara saya membuat hati dan fikiran membentuk sebuah mimpi bahwasanya saya harus bisa menjadi aktor perubahan terhadap perbuatan tekutuk ini yang menghambat perkembangan bangsa ini karena saya adalah indonesia dan indonesiapun adalah saya.
Sebuah perjalanan di mulai dari kota Surabaya yaitu kota yang memiliki pelabuhan indah tanjung perak yang khas dengan sebuah lagu yang pernah di nyanyikan oleh dion salah satu finalis Indonesian idol pada saat itu. Saya berangkat dari sebuah apartment milik teman saya yang merupakan teman yang akan mengantarkan saya ke bandara international juanda di Surabaya. Banyak sekali informasi yang saya dapatkan dari teman saya ini untuk membuat saya akan baik-baik saja di Malaysia. Saya sempat untuk menginap satu hari di apartment nya dan kita sempat mengobrol semalaman penuh serta flash back ke cerita-cerita lama ketika kita masih menjadi manusia yang terombang ambing di hamparan dunia hanya untuk mendapatkan nama sebuah universitas yang mana. Setelah di pagi harinya saya terbangun dan langsung menuju  ke bandara  Dan tepat pada pukul 10 AM tibalah saya di pintu terakhir dimana tempat saya akan di lepas oleh teman saya setelah saya melakukan check-in di bandara. Sangat sedih sekali rasanya saya harus meninggalkan teman saya tersebut yang walaupun  beberapa minggu lagi saya akan bertemu lagi dengan nya.
Rasa senang maupun rasa ragu yang saya rasakan ketika saya harus meninggalkan Indonesia,tanah air beta,untuk mencoba sebuah pengalaman dan menjadikan sebuah batu loncatan terhadap mimpi saya untuk dapat beasiswa melanjutkan S-2 di Negara ratu Elizabeth. Dan akhirnya sebuah moment yang saya sebut sebagai landing yang  membanggakan terjadi tepat pukul 2 PM waktu Kuala Lumpur. Setelah menghabiskan waktu sekitar 3 jam perjalan dari kota Surabaya menuju Kuala Lumpur. Ini adalah moment yang sangat menyentak saya sebagai seorang pecundang dari tanah kosong ketika roda pesawat tersebut menyentuh tanah. Moment ini membuat saya spontant berdoa “ Ya tuhan terimakasih telah membuatkan membuatkan mimpi nyata ini ” dan itu adalah doa atau rasa syukur terbaik saya yang saya rasakan sampai saat ini karena tidak sadar meneteskan airmata. Setelah turun dari pesawat saya berjalan mengikuti penumpang dengan rasa bangga dan harumengikuti para penumpang yang lain untuk berjalan keluar dari bandara yang super besar ini.berikutnya setelah berjalan beberapa menit timbulah rasa penasaran saya terhadap uang yang saya tukarkan tadi,ada rasa ingin tahu terhadap seberapa kuat mata uang Negara Indonesia di mata dunia. Ternyata rasa kekecewaan muncul tidak dari apa yang terjadi terhadap perubahan currency Indonesia ke Malaysia tapi rasa kecewa terhadap sebuah money changer di Surabaya tadi yang menipu seorang pemula dan si culun yang baru saja dapat kesempatan untuk bisa keluar negeri. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah gimana ketika mereka harus melakukan penipuan terhadap tenaga kerja Indonesia yang ingin mengadu nasib di negeri orang yang pasti mayoritas dari mereka adalah tidak memiliki pendidikan yang layak,tidak mimiliki dana lebih yang pasti itu akan menyedihkan sekali dan itu cukup menjadi pelajaran pertama bagi saya ketika bepergian ke luar negeri. Kekecewaan itu tak berlangsung lama karena saya rasa tidak ada gunanya saya menyesali hal yang telah terjadi tersebut. Dan setelah berjalan beberapa menit menyusuri besarnya bandara di Kuala Lumpur sebuah pengalaman bar ketika saya harus dihadapkan oleh pemeriksaan imigrasi yang sebelumnya membuat saya lumayan panic dari beberapa cerita – cerita dari teman saya sebelumnya yang ada disuruh buka baju,ditanyakan banyak sekali sampai mereka ditahan beberapa lama di ruang pemeriksaan dan sebagainya. Maka dari itu membuat saya cukup mencobamempersiapkan jawaban yang sudah saya persiapkan dengan sangat spesifiknya sampai surat – surat kegiatan dari Letter of acceptance,Proposal,dan berbagai bukti bahwa saya mengikuti event tersebut di malaysia. Tapi akhirnya sesuatu yang mengejutkan mereka tidak menanyakan apapun ketika saya harus dihadapkan oleh pekerja ke imigrasian Malaysia setempat.Saya masih mengingat bentuk fisik orang tersebut yang bertubuh besar hitam dengan suara yang lumayan besar yang mengecilkan nyali seorang petualang muda yang baru pertama keluar dari batas negaranya “Exuse me!Can I see your passport” ucap petugas tersebut.Dan hanya itulah kalimat dari petugas ke imigrasian tersebut yang masih teringat oleh saya.Alhamdulillah ya tuhan telah mempermulus perjalanan saya untuk bisa menginjakan tanah dari Negara yang memiliki mantan president berdarah minangkabau ini. Dari bandara di Kuala Lumpur saya langsung mencoba menanyakan untuk bisa sampai ke KL SENTRAL adalah salah satu center atau pusat dari Negara Malaysia kepada petugas setempat. Saya sangat berterima kasih atas saran Sam,panggilan sahabat saya,yang memberikan petunjuk bagi saya kemana dulu saya harus pergi ketika sesampainya di kuala lumpur. Dan itu benar sekali ternyata posisi hotel yang saya tuju berdekatan dengan tempat yang di sarankah oleh sahabat saya yaitu KL SENTRAL.Saya mengunakan kereta Rapid express yang saya rasa lumayan mahal bagi seorang mahasiswa seperti saya.Pada waktu itu saya harus menghabiskan 55 ringgit atau setara 170 ribu rupiah untuk sampai ketempat yang saya tuju. Kekaguman pertama atas Malaysia muncul atas nama public transportation nya  karena ini pertama saya naik kereta yang walaupun transportasi ini lumayan massive ada di pulau jawa dan di dalam nya di fasilitasi dengan WIFI yang super cepat dan itu menyakinkan saya pada statement Sam bahwasanya “WIFI akan bertebaran kalau kamu ada diluar negeri” ucap sam. Dan akhirnya setelah beberapa lama di kereta saya sampai juga di pusat dari kota kuala lumpur tersebut. Awalnya saya panik harus keluar lewat mana tapi quote “Malu bertanya, tersesat dijalan” yang membuat saya akan terlepas dari kebinggungan tersebut yang pada akhirnya menghadapkan saya untuk mengajukan pertanyaan kepada petugas di stesen,sebutan stasiun di Malaysia, tersebut.
Ketika turun beberapa langkah dari escalator stasiun tersebut kekaguman kedua muncul ketika saya melihat pengamen disabilitas creative yang ada di Malaysia.Suaranya sangat merdu,dengan bermodalkan mic dan speaker yang menghibur pejalan kaki di sepanjang KL SENTRAL tersebut kenapa tidak di Indonesia kita melihat pengamen membawakan sebuah gitar terus menyanyi dan menodong (hehe menodong yang dimaksud bukan memaksa ya) . Sebuah google map dari smartphone yang merupakan andalan oleh seorang petualang zaman sekarangpun saya pergunakan untuk mencari hotel yang harus saya tuju yang dimana adalah sebagai tempat berkumpulnya teman-teman dari pemuda mendunia. Sebuah rasa penasaran membawa saya untuk memilih jalan kaki karena hanya berkisar 40 menit untuk berjalan dari posisi saya berdiri ke hotel tersebut. Dan akhir nya saya memilih pilihan tersebut berjalan kaki menuju hotel signature,hotel tempat berkumpulnya teman-teman pemuda mendunia.WAWW!! kekaguman selanjutnya datang di sepanjang perjalanan saya ketika melewati skyscrapers yakni gedung-gedung pencakar langit yang ada di Kuala lumpur. Setelah jalan lebih dar 7 menit dari yang di prediksi oleh google map akhirnya saya sampai juga di hotel yang saya tuju yaitu signature hotel. Saya duduk sejenak di lobby hotel tersebut sampai melihat tanda bahwasanya ada acara di hotel tersebut. 5 menit saya habiskan dengan rasa kebinggungan dengan tidak ada nya tanda bahwasanya ada acara di hotel ini. Sampai seorang receptionist dari hotel tersebut mendatangi saya “ exuse me sir.can I help you sir?” said ncik-ncik,panggilan mas di Malaysia,tersebut dan saya mencoba menjelaskan tentang kedatangan saya di hotel signature ini. Ncik tersebut juga merasa kebinggungan karena setelah di check di computer nya tidak ada reservation dari teman-teman pemuda mendunia pada saat itu. Saya mencoba menunjukan LOA (letter of acceptance) saya ketika pertemuan memang bahwasanya di adakan di hotel signature pada pukul 2 siang ini. Ternyata jawaban dari ncik tersebut “ I suppose that you are wrong” in kuala lumpur  we have 4 brunches maybe your place in KL SENTRAL near to train station” . saya kebinggungan dengan situasi tersebut tapi untung banget ketemu receptionist yang ramah sangat kalau kata orang Malaysia karena dia mencoba mencairkan suasana tersebut dengan mengatakan “ I like when I got the situation like you when I lost in another country hehe” dengan logat indian accents nya tersebut saya tertawa. “Maybe I can see your country more with my lost hehe” jawab saya. Dan saya mencoba berjalan keluar dengan masih menggunakan andalan saya yakni sebuah google map di hp saya. Yang terpikir pada diri saya pada saat itu “naik grab ga ya?”. Dan akhirnya saya lebih memilih berjalan ketimbang saya harus memesan grab yang ditawarkan oleh receptionist tersebut. Alasan saya memilih berjalan adalah yang pertama hemat,yang kedua sambil nikmatin Negara orang dan yang terakhir karena ingin memecahkan asumsi orang-orang luar bahwasanya orang Indonesia ini paling malas untuk jalan dan karena itu saya memilih berjalan.
Setelah menyusuri perjalanan untuk balik ke hotel dekat stasiun di KL Sentral akhirnya saya sampai di hotel tujuan signature hotel. Di hotel tersebut sudah menunggu ketua acara dan teman –teman yang juga lulus diacara tersebut. Saya lumayan sangat kaku pada saat itu kenapa tidak karena ini adalah acara internasional saya yang pertama yang akan membuka pintu perjalanan saya pada nantinya. Seorang participant dari jakarta yang bernama dzul menghampiri saya pada saat itu “Hallo gue zul. Nama lu siapa dan darimana?” tutur dzul yang berasal dari jakarta tapi mempunyai darah minang dikarenakan kedua orang tuanya yang berasal dari bukittinggi,sumatera barat. “ Saya Indre,Saya dari Payakumbuh,Sumatera Barat “ jawab saya pada saat itu. Saya dan dzul lumayan berbincang cukup lama pada saat itu sembari menunggu mendapatkan arahan dari ketua pelaksana dari program ini,dan setelah beberapa lama saya berbincang beberapa teman – teman dari asal dan latar belakang berbeda juga datang menghampiri kita pada saat itu. Sebuah pembelajaran yang terus bertubi – tubi datang pada saat itu mengajarkan saya untuk berkomunikasi lebih baik dan jauh lebih baik. Hal itu jauh sangat berbeda yang saya rasakan yang walau saya selalu bertemu dengan teman – teman dari latar belakang dan daerah yang berbeda di pare,kampung inggris tetap sebuah dimensi dan aura yang berbeda sangat saya rasakan ketika saya berbincang dengan teman – teman hebat yang terpilih di acara yang mendapat apresiasi dari kedubes republik indonesia di Kuala Lumpur ini.
Semua proses dan pembelajaran yang saya terima pada saat itu mengajarkan saya sebuah makna untuk selalu maju dan jangan puas dengan apa yang di dapatkan saat ini. Sebuah kata terimakasih untuk mereka, negeri jiran, penipuan di bandara, adik – adik di klang, yang telah menginspirasi saya sebagai seorang pejuang dari tanah kosong, kata lain dari daerah yang masih belum berkembang, di indonesia yang mengajarkan bahwasanya untuk setiap orang selalu belajar tanpa melihat darimana mereka berasal.

Comments

Popular posts from this blog

Throwaway society

the reality of the people like to use something with instantly and easily without think the future impact It has become common that every people tend to consume everything which is instant and easy for their consumption in daily life. People are namely “ throwaway society”. One of the reasons, this behavior occurs because the awareness is still lack from the inhabitants to know the consequences that will happen in the future. Lack of education concerning the rubbish and its impact as the certain reason why “ throwaway society” is always exist. For instance, Indonesia, one of the countries which produces the second highest rubbish in the world, mirrors the country living in the lack of education, in fact. This awareness will be appeared when the country educates their people to have their own consumption and the result, the habit of “ throwaway society” will be decreased also. This is one of example that this behavior is related that Indonesia is one of the country still ...

Do we need to learn handwriting?

Add caption It is true that people do not need to learn handwriting skill although that skill is paramount. Handwriting skill is commonly implemented in several fields like school, working office, and others but there are several reasons that it is not necessary for people to learn this skill. On the one hand, many institutions for the people to do activities like handwriting have had the sophisticated technology in this era. The worker in this modern technology era needs the efficient ways such as uncomplicated and fast. This reason will require the people able to manage a technology than using the traditional activities is like handwriting. On the other hand, using handwriting for certain people will waste much energy. In case, there is one moment when the lecturer commanded a student to write an article on the paper, it made him faster to feel exhausted than the lecturer ask him to use the certain equipment such as a laptop. This case is one of example that it was no...

Study in another city or country

to study in another city or country is are challanging Students have a choice to continue their studies closed to their families to find another university outside of their city. There are several merit and demerit between both of choises. One of the first benefits of taking university in their city is that they wil not be hesitants to adapt firstly when they are in the university because they are familiar with the environment. The student is not buffled to need someone if they grasp some problems in their university orientation and in fact they will feel comfort. Because of its comfort, it will make the students to be more focused on their study and the result, they will get achievement in first semester in their college as one step to find another achievement in the next semester of their college. However, for the students who like challenging, different environment, and something new, they will assume that getting college in their city is boring, so that it is not going t...