DUNIA TANPA BACKROUND
BUMI merupakan panggung dari sebuah drama indah
yang tersaji dengan beberapa rasa,dan
bahkan lebih beraneka dari sebuah sajian masakan minangkabau yang termasyur di jagat raya,dan disanalah saya berada yaitu “BUMI MINANGKABAU”. Saya
terlahir dari sebuah keluarga yang sangat sederhana di payakumbuh,sebuah kota
kecil di sumatera barat,yang terkenal dengan jalan lurusnya,LURUIHLAH JALAN PAYOKUMBUH, yang terdengar pada syair lagu ayam den lapeh,yang pastinya bagi pembaca
sudah mengenal lama lagu ini ketika masih pada jenjang sekolah dasar. kota
kecil yang damai,dimana bermacam-macam etnis seperti
china, batak, melayu,sunda,jawa,dan beberapa manusia dari darah dan asal-usul
yang berbeda menikmati rasa ketentraman kota ini.Payakumbuh, kota yang sempat
diberitakan dijadikan ibu kota provinsi
sumatera barat ,sungguh merupakan surga kecil kreativitas EL SHADDAI,nama lain
panggilan tuhan,yang diperuntukan untuk
mahluk nya.
suara tangis
terdengar pada empat hari sebelum hari pahlawan pada tahun 1996 pertanda sebuah pejuang sudah turun dari surga
ke bumi yang dimana pada saat itu semua yang ada di indonesia sangat terjangkau
(MURAH). tidak maksud penulis membandingkan antara zaman yang ada sebelumnya
dengan zaman sekarang yang semuanya bisa kita katakan sangat mahal, karena
beberapa faktor yang menyebabkan itu
bisa terjadi. Saya ingat ketika ibu
berkata bahwasanya “Pas wa ang ketek sagalonyo murah,tapi pas tahun
1999 pas adiak ang lahia sagalonyo maha” ucap ibuk,panggilan saya ke ibu,pada saat
itu.
Sorak-sorai
keluarga sangat terasa ketika kelahiran anak pertama dari putra keluarga
wanof,panggilan keluarga dari penulis yang berasal dari nama belakang ayah
penulis. ayah saya adalah seorang pegawai SPBU di
daerah yang dinamakan parit rantang adalah pusat dari perkotaan di
payakumbuh, tempat masyarakat mencari rezeki dengan berjualan,dan sebagainya.
disitulah saya merasakan bahwasanya perjuangan ayah tidak mudah untuk dapat
menyekolahkan anak nya. “ caliak lah apak ang supayo mangarati waang baa susah
nyo apak ang mancari pitih” adalah kata yang selalu terucap oleh ibu ketika
beliau marah kepada anak nya. tapi apa yang terjadi pada masa lalu
menjadikan itu adalah sebuah senjata
untuk memotivasi penulis untuk menjadi lebih baik lagi dalam mengenyam
pendidikan, pekerjaan,dsb. karena penulis sadar bahwa sanya sesorang yang
success akan menjadi lebih success ketika mereka benar benar dari sesuatu yang
kecil dalam memperjuangkan sesuatu karena tidak jarang lagi orang orang besar dan sukses seperti yang ada pada
saat ini mereka melakukan dan mendapatkan sesuatu dengan sebuah proses dan tidak ada sesuatu yang
instant seperti bak nya Mie instant yang walau mie instant sekalipun masih saja
butuh proses untuk dapat dinikmati seperti harus dibuka bungkusnya dulu
selanjutnya direbus,dibumbui,sampai dituangkan sampai baru bisa dinikmati.
dengan hal yang sama sesorang yang terlihat success seperti Jack ma,Kochiro
honda,Andi F.Noya,dan masih banyak lagi orang besar yang penulis idolakan
mendapatkan apa mereka capai saat ini tidak se instant atau semudah yang kita
lihat.
masa kecil penulis sangat bahagia yang walau makna bahagia disini pasti setiap orang akan
mendefinisikan bahagia dengan pendapat yang berbeda dan penulis yang walau hidup di keluarga yang sederhana
dan tinggal dirumah bekas peninggalan
kakek yang pada saat itu masih dimiliki bersama oleh keluarga ayah membuat
penulis merasakan ketentraman dengan keluarga besar yang rendah hati mau
menerima keluarga kita untuk menempati rumah tersebut.
rumah penulis bersampingan dengan sebuah
sekolah islam yang pada saat itu
tidak terlalu ramai tapi menjadikan itu
menjadi tambang bagi ibu untuk mencari uang untuk membantu ayah mencari nafkah.
ibu adalah seseorang yang pintar sekali
dalam mencari peluang dalam berusaha itu ditandai dengan usaha apa saja beliau
bisa menjadikan itu menjadikan keuntungan yang lumayan yang dapat membantu ayah
pada saat itu. tapi keterbatasan modal yang membuat bisnis tidak segampang apa
yang dikatakan om bob sadino bahwa sanya semua harus dimulai tanpa dipikirkan.
ibuk adalah orang yang sangat menginspirasi yang walau tidak seorang yang
berasal dari jurusan management tapi dengan kemampuan yang dimilikinya
mempertegas jiwa berdagang dan managerial pada orang minang sudah sangat
melekat pada mereka. penulis mengaku kalah dengan ide bisnis yang ada pada ibu yang selalu
menginspirasi penulis dalam melakukan aktivitas kuliah,organisasi,kerja,dsb.
dengan
memanfaatkan situasi yang ada pada saat
itu ibu mencoba untuk menjual makanan ringan yang kostumer ditujukan
untuk anak sekolah dan orang tua dari murid sekolah tersebut. tidak disitu saja
ibu juga pernah menjual lontong dan dagangan lainnya untuk mendapatkan rezeki
dari rumah yang berdekatan dengan sekolah tersebut tanpa meninggalkan kewajiban beliau sebagai ibu rumah
tangga. dan jawaban dari semua usaha ibu itu
adalah tidak segampang apa yang dipikirkan
karena banyak sekali masalah yang ditemukan atas dasar persaingan
orang-orang yang iri dengan apa yang didapatkan ibu pada saat itu. permasalahan
itu seperti larangan kepada murid sekolah tersebut untuk berbelanja di warung
ibu karena mereka tidak boleh keluar gerbang,fitnah dari masakan yang sudah
basi,dan bangkai dari hewan yang dulu juga pernah disengaja dilempat kedalam
warung ibu. sebuah cerita
yang sangat menyedihkan untuk di ceritakan tapi menjadikan itu sebuah kenangan
yang mungkin sekali lagi menjadikan motivasi yang sangat luar biasa dari
penulis terhadap apa yang terjadi. saya mengenyam beberapa pendidikan formal di
kota tempat saya dilahirkan dari sekolah dasar sampai sekolah tingkat menengah
yang mungkin membutuhkan biaya yang lumayan tinggi untuk penghasilan orang tua
pada saat itu dan tidak jarang juga ibu meminjam uang ke saudara, tetangga, bahkan Bank hanya untuk sebuah statement “ Kamu harus success dan tunjukan ke orang – orang yang ibu pinjam uang
nya ini buktikan bahwasanya rasa malu ibu ini akan menjadi sebuah kata bangga”

Sangat menginspirasi. Semangat Indee
ReplyDeleteKeren Mr
ReplyDelete