Skip to main content

Menjadi bagian dari sejarah indonesia


 Foto ketika bertemu dengan Wakil president (Bapak Jussuf Kalla) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta (Bapak Sandiaga Uno)


Menjadi bagian dari sejarah adalah sebuah kebanggaan pada diri setiap rakyat Indonesia dan pada zaman nya era digital ini untuk bisa menjadi bagian dari sejarah tidak diharuskan untuk berperang mengusir penjajah ataupun menyia – menyiakan sebuah nyawa pada diri. Tetapi pada zaman millineal saat ini untuk bisa terukir dalam sejarah dapat dilakukan dengan mengukir nama dan berkontribusi dalam sebuah event yang dapat mengharumkan nama bangsa dan hal ini anda bisa menjadi bagian dari sejarah. Sebuah kesempatan besar yang di dapat oleh Indonesia yang menjadi tuan rumah dari pesta olahraga terakbar se-Asia ini yang di hibahkan oleh Vietnam karena merasa tidak sanggup untuk menjadi tuan rumah yang hasil dari moment ini  memberikan sebuah berkah kepada Negara ibu pertiwi untuk menjadi tuan rumah pada perhelatan Asian Games 2018. Persiapan yang tidak sebentar dan butuh pertimbangan yang sangat – sangat matang karena ini menyangkut reputasi dan pandangan bangsa – bangsa terhadap Negara Indonesia. Menurut saya sebagai seorang penulis menjadi tuan rumah event ini memberikan berkah untuk bangsa indonesia dengan hadirnya 45 negara tentu akan menjadi momentum dari pertumbuhan ekonomi bagi bangsa Indonesia dan tak hanya itu tapi juga akan memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukan sosok Indonesia dengan kekayaan hayati dan ke indahan lainnya nya.
Menjadi bagian dari perwakilan sebuah Negara adalah sebuah impian bagi rakyat Indonesia begitupun saya dengan rasa nasionalisme  dan juga antusiasme yang tinggi dengan sebuah olahraga menggarahkan saya untuk dapat menjadi bagian dari sejarah ini adalah sejarah dari multi - event olahraga terbesar nomor satu di Asia ini. Sebuah invitation melalui email yang masih saya ingat di hari ulang tahun saya yang ke 21 pada waktu itu mengajak saya untuk berpartisipasi dalam acara ini. Sebuah undangan untuk bisa mengikuti psikotest dalam acara ini yang saya terima pada tanggal 6 november 2017 ketika melaksanakan sebuah acara Model United Nations yakni simulasi sidang PBB di Kuala Lumpur,Malaysia. Sebuah energy yang tidak takut untuk menyerah yang saya rasakan pada waktu itu sesuai dengan slogan dari acara ini Energy of Asia adalah sebuah slogan yang membuktikan bahwa masyarakan di Asia adalah mereka yang selalu pantang menyerah untuk mencapai kemajuan bangsa mereka,kita lihat saja seperti jepang yang sebelumnya telah hancur akibat serangan Bom Atom yang menghancurkan Negara mereka,Korea yang mengalami kemiskinan di tahun 1960 – an,dan banyak Negara Asia lain nya dan bahkan beberapa dari mereka di isukan akan mengalami kepunahan tetapi karena energy itu, mereka mematahkan semua yang telah di isukan yang bahkan menjadikan mereka bisa menjadi Negara yang sangat cepat perkembangan nya dan bisa dikatakan  menjadi Negara maju pada era digital ini dan begitupun saya dengan semangat dan pantang menyerah untuk bisa berpartisipasi di acara ini yang sebelumnya orang pasti akan merasakan itu sangat berat di tenggah jadwal kuliah dan mengajar yang padat pada saat itu.
Beberapa teman – teman saya tidak berani untuk menggambil resiko untuk bisa mengikuti seleksi masuk dalam susunan kepanitiaan event ini. Waktu,financial,dan ketidak pastian adalah kata – kata yang menjadi biang keladi yang menggagalkan mereka untuk tidak mengikuti rangkaian seleksi untuk menjadi bagian dari sejarah ini. Tapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat saya untuk meletakan rasa antusias yang besar untuk bisa berpartisipasi dalam event ini.
Tetapi dalam keberangkatan tidak semudah yang saya pikirkan sebelumnya karena saya harus melewati beberapa rintangan yang hampir membuat saya menyerah menuju ke event ini. Rintangan pertama yang saya temukan adalah harus mengejar waktu saya untuk bisa menyelesaikan kelas saya pada waktu itu karena jadwal yang lumayan mepet dengan jadwal menggajar saya di pare,kampung inggris. Tapi karena kesungguhan hati,semua dari tugas tersebut terselesaikan juga dan membuat saya tetap berangkat ke Jakarta untuk mengikuti serangkaian seleksi tersebut. Dan tidak hanya sampai disitu saja setelah rintangan yang cukup menguras emosi dan tenaga itu mengarahkan saya ke sebuah rintangan yang jauh sangat berat lagi yakni sebuah kelalaian dari supir travel membuat saya harus ketinggalan dari pesawat menuju Jakarta. Mungkin anda akan merasakan bagaimana rasanya ketika anda punya uang pas – pasan,anda tidak memiliki banyak opsi untuk tinggal di daerah metropolitan, anda harus bersaing lebih dari 18.000 peserta seluruh Indonesia,dan sekarang anda harus ketinggalan pesawat yang membuat anda berfikir keras bahwasanya yang pertama adalah “apakah tuhan melarang saya untuk pergi?” dan yang kedua yaitu “apakah ini ujian terberat saya untuk bisa sukses pada event ini? ”. Saya mencoba berfikir positif pada saat itu bahwasanya opsi yang kedua dirasa cocok pada diri saya. Saya mencoba memutar otak dan secara langsung mencoba untuk menanyakan pihak bandara apakah mereka menjual tiket pesawat selanjutkan. “Mas ada tiket pagi ini ga?” dan secara langsung pihak konter tersebut menjawab “oiya ada ini berangkat jam 5” dan saya lega pada saat itu “harganya berapa mas?” Tanya saya. Pada waktu itu yang terdengar oleh saya adalah 700 ribu. Dan pada akhirnya menggarahkan saya untuk melakukan pembayaran ke counter pesawat yang cukup terkenal dengan kemewahan nya. “Wah mendingan gue naik pesawat ini aja dari kemarin ya beda 150 ribu doang”- Dalam hati saya. Dan setiba saya di loket tersebut dengan membawakan selembar kertas yang telah diberikan oleh bapak pihak Bandara yang tadi dan saya langsung memberikan nya kepada penjaga loket yang berada pada maskapai tersebut “anda beruntung sekali karena hari ini kita ada discount,dan pembayaran anda menjadi 1.600.000 Rupiah” dan secara langsung saya respon  “oh tidak jadi mbak,tadi saya rasa 700 ribu”. Sebuah rasa kesedihan yang saya rasakan pada saat itu di tengah hati yang bergebu – gebu untuk mendapatkan pengalaman baru tapi harus di hadapkan oleh permasalahan yang cukup rumit pada saat itu. Bukan maksud penulis melebih – lebihkan kisah ini tapi itulah memang yang terjadi pada penulis pada saat itu yang ingin rasanya menanggis di tengah permasalahan yang di hadapi saat itu membuat saya mencari kursi kosong untuk duduk sejenak di sekitaran bandara .
Sekali lagi “Semangat” adalah modal utama saya untuk selalu berusaha dalam menggapai apa yang ingin saya capai karena saya sadar bahwasanya saya bukan orang yang cerdas dengan prestasi yang mentereng,bukan anak orang kaya,dan bukan anak yang mempunyai keluarga dengan relasi setinggi langit. Modal itu membuat saya masih kembali berangkat dengan membeli tiket baru. Sesampai di Jakarta saya langsung menghubungi teman saya yang berada disana dan keberuntungan saya pada waktu itu membuat saya bisa tinggal untuk beberapa hari disana.  Besok harinya saya hadir di sebuah institusi LPPI ( Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia) yang menjadi tepat seleksi bagi para volunteer. Ini pemandangan yang luar biasa menurut saya karena ribuan masyarakat dari beberapa daerah Indonesia berkumpul untuk bisa mengikuti serangkaian seleksi ini dan ini mengingatkan saya seperti seleksi Indonesian idol dengan ramainya peserta yang antusias menjadi bagian dari event ini. Seleksi yang petama adalah sebuah pertanyaan psikotest,dilanjutkan dengan FGD,dan terakhir disambut dengan sesi interview yang langsung dari beberapa interviewer pengalaman dari dosen psikology,universitas Indonesia. Saya sempat merasa beda pada proses seleksi tersebut karena hanya saya yang menggunakan jas dan komplit dengan dasi begitupun sepatu pantofel karena yang saya rasakan memacu saya untuk harus bisa lulus pada seleksi ini dan itupun dimulai dari pakaian yang harus melihatkan keseriusan saya pada event ini.
Setelah melaksanakan seleksi tersebut saya mencoba untuk mengambil keputusan untuk tinggal untuk beberapa hari lagi di rumah teman saya sambil menunggu periode baru yaitu jadwal pendaftaran baru member di kampung inggris. Saya berharap pada saat itu ada beberapa pelajar yang mendaftar di website saya yang membuat saya akan bisa pulang dengan uang itu. Mungkin saja pada saat itu saya bisa memberitahu keadaan saya ke ibu saya. Tapi dengan berat hati karena ketika saya mengatakan nya kepada ibu. Saya yakin ibu akan bergegas mencari pinjaman untuk saya dengan apapun cara nya dan itulah ibu dia akan melakukan apapun cara untuk menyalamatkan anak nya bagaimanapun susahnya. Setelah beberapa hari akhirnya ada beberapa rombongan yang mendaftarkan dirinya ke kampung inggris melalui website saya yang membuat saya bisa menggunakan uang tersebut untuk membelikan tiket kereta pulang ke pare. Namun ketika berselang beberapa jam setelah saya membeli tiket kereta tersebut. Email dari sebuah tanda bahwasanya anda telah lulus untuk bergabung di “Test event Asian Games 2018” muncul di email saya. Rasa senang bercampur bangga yang saya rasakan pada saat itu ditenggah rasa sedih saya telah terlanjur membeli tiket kereta yang harganya lumayan pada saat itu. Tapi beruntung pada saat itu saya masih bisa mengambalikan tiket kereta tersebut ke stasiun yang walau saya hanya bisa di ambil 70% dari uang yang sudah dibayarkan. Waktu yang hanya berselang 3 hari untuk melaksanakan General Training yang membuat saya harus membatalkan tiket tersebut dan tetap stay di Jakarta untuk beberapa hari lagi dan saya beruntung pada saat itu ada teman saya yang membantu saya di jakarta.
Setelah beberapa hari ketika saya sudah menyelesaikan semuanya di Jakarta saya balik lagi ke pare untuk melanjutkan kuliah saya di Kediri yang telah bolos untuk beberapa hari. Semuanya berjalan lancar karena pengertian dosen terhadap saya pada saat itu. Setelah beberapa hari melaksanakan kuliah. Dengan tidak sengaja saya mencoba untuk check email saya pada saat itu. Ini adalah sebuah “ Shock teraphy” yang cukup membuat saya harus berfikir keras kembali karena 2 hari lagi akan di laksanakan GT 2,adalah general training kedua dari event tersebut. Dia berfikir terlalu lama saya langsung memesan tiket kereta pada H-1 keberangkatan. Benar benar sesuatu yang memberikan pengalaman yang luar biasa pada saat itu karena di kereta mengharuskan saya untuk bisa mandi langsung dan berpakaian rapi sekaligus karena jadwal atau waktu yang mengharuskan saya pagi itu untuk datang ke hotel malawai yaitu tempat yang sangat asing bagi seseorang yang baru saja mimiliki aktivitas di Jakarta. Ini adalah GT terberat menurut saya dibandingkan GT sebelumnya maupun sesudah nya karena sesampainya saya di Kediri saya mendapatkan demam yang sangat tinggi yang mengharuskan saya untuk ber istirahat beberapa hari tetapi “ saya harus cepat sehat” di fikiran saya pada saat itu karena beberapa hari setelah itu saya harus mengikuti ujian akhir semester 5 di kampus saya. Dengan meminum air yang cukup banyak dan hanya di iringi dengan meminum obatan yang di jual di warung kecil,akhirnya tuhan memberikan saya kesehatan yang membuat saya bisa ujian dengan tenang pada saat itu.
Setelah akhir dari ujian tersebut saya mendapatkan jadwal untuk turut hadir di acara inti dari test event asian games tersebut. Di acara ini kita sebagai volunteer yang berasal dari luar jabodetabek diberikan kesempatan untuk bisa tinggal di athlete village yaitu tempat dari penginapan beberapa kontingen dan official test event asean games. Awal sebelum saya sampai di tempat tersebut adalah saya berfikir tempat itu jauh dari keramaian,di ikuti oleh gedung yang masih dalam tahap rekontruksi yang belum siap 100%. Tapi setelah sampai di tempat tersebut rasa lelah itu hilang karena sebuah pengalaman yang baru yang saya dapatkan dengan bertemu dengan teman – teman dari berbagai daerah yang sangat ramah yang saling bertukar informasi ataupun pengetahuan di bidang nya. Sebuah pengalaman yang pertama pada saat itu adalah ketika rombongan kita di kawal dari pihak kepolisian yang tentu ini adalah menjadi pengalaman yang membuat saya bersyukur sejenak. Di dalam hati saya “ terima kasih ya tuhan telah mebawa saya kepada pengalaman ini”. Kantor akreditasi di athlete village adalah tempat pertama yang di perkenalkan kepada kita,volunteer,pada saat itu. Ruangan yang penuh dengan computer yang akan di gunakan ketika bertugas sebagai volunteer yang bekerja di department akreditasi pada saat itu. Sebuah department yang tidak saya inginkan dan sangat asing bagi saya pada saat itu membuat saya yang awalnya kecewa pada waktu itu tapi setelah mengetahui makna dan apa itu akreditasi meyakinkan saya bahwasanya ini adalah pekerjaan yang menyenangkan sekaligus akan memberikan banyak pengalaman yang sangat berharga ketika harus menghadapi semua dari kontingen pada per helatan test event ini.
Apa itu akreditasi adalah sebuah pertanyaan pada pembaca yang mungkin butuh dijelaskan pada cerita ini. Akreditasi adalah sebuah department bagian dari asian games yang mengurus data sekaligus pemberiaan ID Card kepada atlit untuk mendapatkan access menuju penginapan serta venue – venue yang –dipergunakan saat pertandingan. Awalnya ketika pertandingan saya berfikir ini adalah pekerjaan yang sangat membosankan yang memungkinkan saya tidak bisa bertemu dengan atlit – atlit yang merupakan tujuan utama saya. Tetapi semua dari persepsi itu salah yang dimana pada department inilah saya bisa bertemu langsung dengan semua atlit. Sebuah pengalaman yang menarik dengan bermain dengan system dari korea yang sebelumnya telah di ajarkan saat di general training. Membuat guest pass (sebuah akses masuk untuk tamu),ID Card perserta, foto copy tanda identitas, pemberian hologram saat validasi merupakan sebuah pengalaman baru yang tidak akan terlupakan bagi saya. Di waktu pekerjaan juga saya disempatkan berbicara banyak dengan berbagai atlit peserta asean games tersebut seperti Thailand,korea,dan jepang merupakan Negara yang di idolakan oleh volunteer di akreditasi pada saat itu. Kejadian yang lumayan lucu juga yang pernah saya temukan pada saat itu ketika official dari Negara kaya seperti arab Saudi meminta untuk diberikan signal internet alias tathering yang membuat saya ketawa pada saat itu karena ini adalah pengalaman pertama saya dimintakan tathering oleh orang luar negeri dan juga official dari Negara kaya arab Saudi. Sebuah keramahan itu berujung sebuah kenangan yang cukup menyenangkan saya pada saat itu karena diberikan sebuah original pin dari arab Saudi . yousef adalah nama dari teman yang rendah hati tersebut yang juga bergabung dengan kita untuk bermain UNO pada malam hari ketika semua athlete sudah tidur tapi tidak dengan official ini. “Masyaallah,subhanallah”  kata – kata yang sering terucap ketika beliau bermain dengan kita pada saat itu.
Tidak hanya pengalaman ketika bekerja di ruang akreditasi saja yang saya dapatkan tapi juga dengan sharing informasi dari teman – teman yang berada di athlete village tersebut. Saya bertemu dengan dosen, volunteer wanita yang pernah menjadi atlit boxing, wasit di beberapa kejuaraan turnamen di daerahnya,dan juga teman yang berwawasan tinggi dengan jurusan filsafat yang di ambilnya membuat saya semakin bersyukur atas kesempatan yang sangat berharga ini. Ditenggah acara yang cukup padat kita,volunteer,juga menyempatkan diri untuk bisa menonton berbagai macam olahraga di test event pada saat itu. Taekwondo,basket,volley,bahkan bola basket adalah venue favorit yang selalu dikujungi oleh volunteer pada saat itu. Bertemu bermacam atlit yang cukup terkenal sudah menjadi sesuatu yang sangat biasa pada diri kita pada saat itu. “andai saja sepakbola juga di adakan bahkan lebih asik pasti ya” adalah kata hati saya pada saat itu dikarenakan olahraga cabor sepakbola yang batal di penghujung acara test event dimulai yang dikarenakan kekurangan peserta yang ingin berpartisipasi pada acara itu yang bersamaan dengan piala asia U- 22 pada saat itu. Canda dan tawa adalah sebuah hal yang cukup ampuh yang digunakan di tengah pekerjaan sudah mulai membosankan pada saat itu dikarenakan semua kontingen sudah memiliki ID Card msaing – masing. Memang pekerjaan akreditasi adalah pekerjaan yang lumayan berat di awal tetapi selepas itu semuanya menjadi membosankan dikarenakan hanya di habiskan dengan duduk – duduk.
Setelah beberapa hari test event di gelar maka sampailah saya di penghujung acara dengan banyaknya atlit yang pulang dan menandakan tugas saya di acara ini sudah selesai. Sedih sekali harus berpisah dengan teman – teman ini yang walau kita tidak menggenal di waktu yang cukup lama tapi atas dasarnya kenyamanan di lingkungan ini membuat saya merasakan kesedihan yang lumayan membuat hati terasa kehilangan.
Sebuah berkah yang saya dapatkan atas event ini yang membuat saya mendapatkan kesempatan untuk pulang ke padang dengan hasil uang pemberian terimakasih untuk volunteer ini. Saya gunakan uang ini untuk membeli tiket pulang sekaligus waktu yang berharga ini akan saya gunakan untuk menggurus SKCK sebagai persyaratan di acara Main event selanjutnya. Terima kasih Asian Games, Teman – teman volunteer, Koordinator yang telah memberikan saya pengalaman yang sangat luar biasa pada waktu itu. See you in main event dengan posisi yang berbeda dan dengan materi pembelajaran yang berbeda.
-SEKIAN -

Comments

Popular posts from this blog

Throwaway society

the reality of the people like to use something with instantly and easily without think the future impact It has become common that every people tend to consume everything which is instant and easy for their consumption in daily life. People are namely “ throwaway society”. One of the reasons, this behavior occurs because the awareness is still lack from the inhabitants to know the consequences that will happen in the future. Lack of education concerning the rubbish and its impact as the certain reason why “ throwaway society” is always exist. For instance, Indonesia, one of the countries which produces the second highest rubbish in the world, mirrors the country living in the lack of education, in fact. This awareness will be appeared when the country educates their people to have their own consumption and the result, the habit of “ throwaway society” will be decreased also. This is one of example that this behavior is related that Indonesia is one of the country still ...

Do we need to learn handwriting?

Add caption It is true that people do not need to learn handwriting skill although that skill is paramount. Handwriting skill is commonly implemented in several fields like school, working office, and others but there are several reasons that it is not necessary for people to learn this skill. On the one hand, many institutions for the people to do activities like handwriting have had the sophisticated technology in this era. The worker in this modern technology era needs the efficient ways such as uncomplicated and fast. This reason will require the people able to manage a technology than using the traditional activities is like handwriting. On the other hand, using handwriting for certain people will waste much energy. In case, there is one moment when the lecturer commanded a student to write an article on the paper, it made him faster to feel exhausted than the lecturer ask him to use the certain equipment such as a laptop. This case is one of example that it was no...

Study in another city or country

to study in another city or country is are challanging Students have a choice to continue their studies closed to their families to find another university outside of their city. There are several merit and demerit between both of choises. One of the first benefits of taking university in their city is that they wil not be hesitants to adapt firstly when they are in the university because they are familiar with the environment. The student is not buffled to need someone if they grasp some problems in their university orientation and in fact they will feel comfort. Because of its comfort, it will make the students to be more focused on their study and the result, they will get achievement in first semester in their college as one step to find another achievement in the next semester of their college. However, for the students who like challenging, different environment, and something new, they will assume that getting college in their city is boring, so that it is not going t...